Senin, 19 Desember 2011

Puisi Rabi'ah Al-Adawiyah

I
Alangkah sedihnya perasaan dimabuk cinta
Hatinya menggelepar menahan dahaga rindu
Cinta digenggam walau apapun terjadi
Tatkala terputus, ia sambung seperti mula
Lika-liku cinta, terkadang bertemu surga
Menikmati pertemuan indah dan abadi
Tapi tak jarang bertemu neraka
Dalam pertarungan yang tiada berpantai
II
Aku mencintai-Mu dengan dua cinta
Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu
Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingat-Mu
Cinta karena diri-Mu, adalah keadaan-Mu mengungkapkan tabir
Hingga Engkau ku lihat
Baik untuk ini maupun untuk itu
Pujian bukanlah bagiku
Bagi-Mu pujian untuk semua itu
III
Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cinta-Mu
Hingga tak ada satupun yang mengganguku dalam jumpa-Mu
Tuhanku, bintang gemintang berkelip-kelip
Manusia terlena dalam buai tidur lelap
Pintu pintu istana pun telah rapat
Tuhanku, demikian malam pun berlalau
Dan inilah siang datang menjelang
Aku menjadi resah gelisah
Apakah persembahan malamku, Engkau terima
Hingga aku berhak mereguk bahagia
Ataukah itu Kau tolak, hingga aku dihimpit duka,
Demi kemahakuasaan-Mu
Inilah yang akan selalau ku lakukan
Selama Kau beri aku kehidupan
Demi kemanusian-Mu,
Andai Kau usir aku dari pintu-Mu
Aku tak akan pergi berlalu
Karena cintaku pada-Mu sepenuh kalbu
IV
Ya Allah, apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di dunia ini,
Berikanlah kepada musuh-musuh-Mu
Dan apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di akhirat nanti,
Berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu
Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku
V
Aku mengabdi kepada Tuhan
bukan karena takut neraka
Bukan pula karena mengharap masuk surga
Tetapi aku mengabdi,
Karena cintaku pada-Nya
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu
karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembah-Mu
karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu
yang abadi padaku
VI
Alangkah buruknya,
Orang yang menyembah Allah
Lantaran mengharap surga
Dan ingin diselamatkan dari api neraka
Seandainya surga dan neraka tak ada
Apakah engkau tidak akan menyembah-Nya?
Aku menyembah Allah
Lantaran mengharap ridha-Nya
Nikmat dan anugerah yang diberikan-Nya
Sudah cukup menggerakkan hatiku
Untuk menyembah-Mu
VII
Sulit menjelaskan apa hakikat cinta
Ia kerinduan dari gambaran perasaan
Hanya orang
yang merasakan dan mengetahui
Bagaimana mungkin
Engkau dapat menggambarkan
Sesuatu yang engkau sendiri bagai hilang
dari hadapan-Nya, walau ujudmu
Masih ada karena hatimu gembira yang
Membuat lidahmu kelu
VIII
Andai cintaku
Di sisimu sesuai dengan apa
Yang kulihat dalam mimpi
Berarti umurku telah terlewati
Tanpa sedikit pun memberi makna
IX
Tuhan, semua yang aku dengar
di alam raya ini, dari ciptaan-Mu
Kicauan burung, desiran dedaunan
Gemericik air pancuran
Senandung burung tekukur
Sepoian angin, gelegar guruh
Dan kilat yang berkejaran
Kini
Aku pahami sebagai pertanda
Atas keagungan-Mu
Sebagai saksi abadi, atas keesaan-Mu
dan
Sebagai kabar berita bagi manusia
Bahwa tak satu pun ada
Yang menandingi dan menyekutui-Mu
X
Bekalku memang masih sedikit
Sedang aku belum melihat tujuanku
Apakah aku meratapi nasibku
Karena bekalku yang masih kurang
Atau karena jauh di jalan yang ‘kan kutempuh
Apakah Engkau akan membakarku
O, tujuan hidupku
Di mana lagi tumpuan harapanku pada-Mu
Kepada siapa lagi aku mengadu?
XI
Ya Allah
Semua jerih payahku
Dan semua hasratku di antara segala
kesenangan-kesenangan
Di dunia ini, adalah untuk mengingat Engkau
Dan di akhirat nanti, di antara segala kesenangan
Adalah untuk berjumpa dengan-Mu
Begitu halnya dengan diriku
Seperti yang telah Kau katakan
Kini, perbuatlah seperti yang Engkau kehendaki
XII
Ya Tuhan, lenganku telah patah
Aku merasa penderitaan yang hebat atas segala
yang telah menimpaku
Aku akan menghadapi segala penderitaan itu dengan sabar
Namun aku masih bertanya-tanya
Dan mencari-cari jawabannya
Apakah Engkau ridha akan aku
Ya, Ya Allah
O Tuhan, inilah yang selalu mengganggu langit pikiranku
XIII
Ya Allah
Aku berlindung pada Engkau
Dari hal-hal yang memalingkan aku dari Engkau
Dan dari setiap hambatan
Yang akan menghalangi Engkau
Dari aku
XIV
Ya Illahi Rabbi
Malam telah berlalu
Dan siang datang menghampiri
Oh andaikan malam selalu datang
Tentu aku akan bahagia
Demi keagungan-Mu
Walau Kau tolak aku mengetuk pintu-Mu
Aku akan tetap menanti di depannya
Karena hatiku telah terpaut pada-Mu
XV
Tuhanku
Tenggelamkan diriku ke dalam lautan
Keikhlasan mencintai-M
Hingga tak ada sesuatu yang menyibukkanku
Selain berdzikir kepada-Mu
*****

Kurang lebih beginilah rasanya....
Salam,
Magenta. 
Referensi:

Oh.. rupanya 'ini' namanya Sufism..

Baru tahu.. bahwa kedekatan dengan Tuhan yang dirasakan itu namanya Sufisme..
Tidak menyangka bahwa, atau lebih tepatnya baru paham bahwa pengenalan dan kebersatuan dengan Tuhan itu disebut dengan ilmu tasawuf..
Rasa mengenal dan bertemu Tuhan itu dalam ilmu tasawuf, ada empat tingkat :
1. Syariah
2. Tarikat
3. hakikat.
4. Ma'rifat

Kalau saya tidak salah mengerti dan mungkin sudah cukup  gila, mungkin yang saya alami ini disebut dengan Ma'rifat. Dalam pembahasaan saya saking rasanya sudah kenal Tuhan, saya jadi 'dipaksa' hingga paham betul, merasakan betul, menjalani dengan sebenar-benarnya bahwa saya berada di Jalan yang lurus.
Apa itu jalan yang lurus? jalan yang menurut Tuhan harus dijalani oleh manusia-manusianya. Tetapi, mereka sebegitu 'buta' nya sehingga selama ini berkemauan menciptakan jalannya sendiri, sehingga jalan Tuhan tidak terlihat. Ketika kedekatan terhadap Tuhan muncul, Tuhan menunjukkan dengan caranya, agar kami-kami ini menjalani jalan-Nya. Bagaimana? ya dengan caranya, kami 'dipaksa' menjalaninya. Apa rasanya? ketakutan yang amat sangat besar karena rasanya begitu 'Divine' begitu luar biasa keagunganNya, sampai-sampai beribu-ribu kali 'kelojotan' karena benar-benar 'berjalan' diatasnya.

Contohnya? sederhana. Sangat sederhana. Saya hanya ingin makan mie ayam, tetapi entah kenapa jalan menuju ke tempat saya ingin makan tidak bisa ditempuh. Sangat macet, sehingga saya harus berganti arah untuk menempuhnya. Saya menempuh jalan lain, saya dihadang macet lagi. Akhirnya saya tidak dapat mie ayam yang saya inginkan. Saat saya tahu bahwa saya tidak boleh makan, kesimpulannya cuma satu : keinginan saya tidak boleh, jalanNya yang harus saya tempuh. Kalau Anda bertanya-tanya kenapa tidak boleh, saya pun tidak bisa jawab dengan pasti. Yang saya paham cuma begini, keinginan saya belum tentu jalanNya, maka saya tidak mendapatkannya.. saat itu. Namun, lucunya, Tuhan tetap memberikan keinginan saya ketika Ia rasakan sudah merupakan jalanNya. Keesokan harinya, saya makan mie ayam di kantin kantor. Saya tetap dapat, tetapi berdasarkan caraNya dan waktuNya.

Bayangkan, contoh yang saya sebutkan di atas itu baru contoh yang sangat simpel. Yang saya alami, berkali-kali kejadian dengan pola seperti itu, hanya saja dalam berbagai hal yang saya jalani sehari-hari. Frustasi? berkali2. Ketakutan? sudah lewat rasanya, tetapi masih suka muncul juga apabila diberi pola yang baru. Bahagia? masih berusaha berdamai dengan diri sendiri. Kenapa saya sebut ini ada kaitannya dengan aliran Sufi? karena aliran sufi itu mencari kemurnian Jiwa/batin/rasa, dan kemurnian itu adalah peleburan dengan Tuhan. Yang mungkin belum saya dapatkan di berbagai literatur yang saya coba cari, tidak dituliskan keterangan disitu, apa yang benar-benar dialami orang-orang yang mencari kemurnian jiwa tersebut. Semoga saya tidak salah paham, ketika berusaha mendekatkan diri denganNya, penderitaan involve di dalamnya. Kenapa menderita? karena semua keinginan diri tidak teraktualisasi ketika kita berserah kepada semua dayaNya. Jadi, ketika saya ingin mie ayam saja, itu keinginan saya, saya tidak berserah terhadap dayaNya, yang menjadi tidak boleh. Tetapi ketika sudah berserah, ia dengan keMahaannya, memberikan kemudahan yang amat sangat, untuk saya mendapatkan mie ayam, keesokan harinya. Mengerti? caraNya dan waktuNya.

Saya bukan siapa-siapa, sungguh. Saya hanya ingin membagi, yang tidak bisa saya bagi dengan mudah kepada orang-orang, di dunia nyata. Bahwa kebesaranNya begitu indah, selain semua derita yang ia bagikan, nikmat yang ia berikan luar biasa dan berkelimpahan. Saya melakukan pencarian atas apa yang saya rasakan. Saat ini, yang paling masuk akal adalah Sufism.

Waalahualam.
Semoga Tuhan selalu beserta Anda dan orang-orang yang Anda cintai.

Salam,
Magenta.

Minggu, 18 Desember 2011

Magenta Membrane

Ini sudah entah hari keberapa sejak saya berada dalam 'ini' semua. Dia menyebutnya permainan. Saya masih kebingungan. Yang saya tahu, hari ini saya tidur siang selama kurang dari 45 menit dan saya terbangun dengan jantung berdetak sangat keras, begitupun saat berada di dalam mimpi.

Cerita dalam mimpinya sederhana. Saya hendak pergi dengan beberapa orang teman saya, begitu juga dengan dia. Saat itu kondisinya malam. Kami hendak bepergian dalam satu mobil. Hanya saja, saya tersadar bahwa saya belum membawa kunci rumah. Saya pun berbalik ke arah pintu depan, mengunci pintu dan membawa kunci. Saat kembali ke depan pagar, saya tersadar bahwa mobil yang hendak membawa saya bersama dengan teman-teman dan Dia, sudah pergi. Tiba-tiba saya merasa sangat ketakutan, karena keadaan yang sudah saya ketahui adalah malam, membawa rasa pekat dan gelap serta asing. Di saat yang sama, keadaan gelap itu saya sadari sebagai perubahan warna, itu bukan gelap.. itu adalah warna ungu tua menjelang merah muda, saya senang menyebutnya sebagai Magenta. Mata saya seperti diselaputi membran berwarna Magenta, ketika saya tersadar ada sosok di depan saya yang terbatas oleh pagar, mengenakan Coat Burberry berwarna cream. Saat saya menuliskannya pun, saya masih ingat persis warna selaput itu, sosok berjubah itu dan perasaan deg-degan, jantung yang berpacu sangat kencang. Rasanya, saya sangat ketakutan karena tidak tahu apa yang terjadi. Rasanya, keadaan itu begitu nyata. Ketika saya tahu bahwa itu adalah mimpi, entah bagaimana adegannya tergantikan dengan saya yang sedang duduk di bangku bioskop. Saya menonton beberapa adegan yang berupa slide. Yang saya ingat, ada sosok seperti siluet hitam bangun dari duduknya di depan saya dan bergerak seperti menunduk. Adegan-adegan yang ada dalam slide pun bukan adegan penting, hanya seperti iklan-iklan makanan. Salah satunya mengenai sushi.

Mengapa mimpi ini menjadi penting, karena saya merasakan bahwa itu bukan seperti mimpi. Adegan sushi adalah slide terakhir yang saya ingat, sembari saya katakan pada diri saya untuk bangun (karena saya sadar bahwa saya sedang mimpi). Ketika saya sudah membangunkan diri saya, tepatnya membuka mata saya, saya bisa melihat bahwa saya sudah bangun, karena yang terlihat adalah bantal yang menutup mata. Anehnya, ketika saya menutup lagi mata saya, saya dengan mudahnya masuk lagi ke dalam mimpi  tersebut. Itu bukan tidur, dan itu bukan mimpi. Saya hanya seperti sedang berganti tempat dan kejadian. Rasanya yang saya sebut mimpi itu adalah saya sedang pindah ke dalam 'tempat' tersebut dan saya nyatakan sebagai mimpi.

Yang jadi pertanyaan berikutnya, saat saya sedang melihat sosok dengan Burberry itu, maupun melihat adegan slide di bioskop, ada membran magenta yang meliputi tiap kali ada pergantian adegan.
Yang jelas saya tahu, hidup saya belakangan memang menjadi semakin aneh. Entah siapa yang biasa mengerti, selain Dia.

Keanehan ini terus terjadi dan meningkat tiap kali saya menyadari sesuatu. Baiknya saya sebut kesadaran akan Kebijaksanaan Tuhan.

Perjalanan ini memang masih awal, tetapi saat ini saya masih ingin bercerita tentang keanehan tidur dan mimpi saya saja. Apabila Anda tetap disini, membaca ini, mungkin akan segera ada tambahan blog, yang menjelaskan kenapa saya ada pada kondisi ini dan menjelaskannya kepada Anda.

Yang saya tahu, saya menuliskan ini dengan begitu lancar tanpa terlalu banyak berpikir dan Anda sedang merasakan keanehan karena Anda mungkin pernah mengalaminya atau Anda hanya sekedar berpikir saya aneh.

Tapi yang saya cukup yakin, entah bagaimana akan ada blog-blog lanjutan yang menceritakan kedekatan dan Kebijaksanaan Tuhan.

Stay disini, setidaknya agar Anda bisa menyaksikan hidup saya dan dapat saya bagikan kebahagiaan karena telah mengenal Tuhan.