Senin, 19 Desember 2011

Oh.. rupanya 'ini' namanya Sufism..

Baru tahu.. bahwa kedekatan dengan Tuhan yang dirasakan itu namanya Sufisme..
Tidak menyangka bahwa, atau lebih tepatnya baru paham bahwa pengenalan dan kebersatuan dengan Tuhan itu disebut dengan ilmu tasawuf..
Rasa mengenal dan bertemu Tuhan itu dalam ilmu tasawuf, ada empat tingkat :
1. Syariah
2. Tarikat
3. hakikat.
4. Ma'rifat

Kalau saya tidak salah mengerti dan mungkin sudah cukup  gila, mungkin yang saya alami ini disebut dengan Ma'rifat. Dalam pembahasaan saya saking rasanya sudah kenal Tuhan, saya jadi 'dipaksa' hingga paham betul, merasakan betul, menjalani dengan sebenar-benarnya bahwa saya berada di Jalan yang lurus.
Apa itu jalan yang lurus? jalan yang menurut Tuhan harus dijalani oleh manusia-manusianya. Tetapi, mereka sebegitu 'buta' nya sehingga selama ini berkemauan menciptakan jalannya sendiri, sehingga jalan Tuhan tidak terlihat. Ketika kedekatan terhadap Tuhan muncul, Tuhan menunjukkan dengan caranya, agar kami-kami ini menjalani jalan-Nya. Bagaimana? ya dengan caranya, kami 'dipaksa' menjalaninya. Apa rasanya? ketakutan yang amat sangat besar karena rasanya begitu 'Divine' begitu luar biasa keagunganNya, sampai-sampai beribu-ribu kali 'kelojotan' karena benar-benar 'berjalan' diatasnya.

Contohnya? sederhana. Sangat sederhana. Saya hanya ingin makan mie ayam, tetapi entah kenapa jalan menuju ke tempat saya ingin makan tidak bisa ditempuh. Sangat macet, sehingga saya harus berganti arah untuk menempuhnya. Saya menempuh jalan lain, saya dihadang macet lagi. Akhirnya saya tidak dapat mie ayam yang saya inginkan. Saat saya tahu bahwa saya tidak boleh makan, kesimpulannya cuma satu : keinginan saya tidak boleh, jalanNya yang harus saya tempuh. Kalau Anda bertanya-tanya kenapa tidak boleh, saya pun tidak bisa jawab dengan pasti. Yang saya paham cuma begini, keinginan saya belum tentu jalanNya, maka saya tidak mendapatkannya.. saat itu. Namun, lucunya, Tuhan tetap memberikan keinginan saya ketika Ia rasakan sudah merupakan jalanNya. Keesokan harinya, saya makan mie ayam di kantin kantor. Saya tetap dapat, tetapi berdasarkan caraNya dan waktuNya.

Bayangkan, contoh yang saya sebutkan di atas itu baru contoh yang sangat simpel. Yang saya alami, berkali-kali kejadian dengan pola seperti itu, hanya saja dalam berbagai hal yang saya jalani sehari-hari. Frustasi? berkali2. Ketakutan? sudah lewat rasanya, tetapi masih suka muncul juga apabila diberi pola yang baru. Bahagia? masih berusaha berdamai dengan diri sendiri. Kenapa saya sebut ini ada kaitannya dengan aliran Sufi? karena aliran sufi itu mencari kemurnian Jiwa/batin/rasa, dan kemurnian itu adalah peleburan dengan Tuhan. Yang mungkin belum saya dapatkan di berbagai literatur yang saya coba cari, tidak dituliskan keterangan disitu, apa yang benar-benar dialami orang-orang yang mencari kemurnian jiwa tersebut. Semoga saya tidak salah paham, ketika berusaha mendekatkan diri denganNya, penderitaan involve di dalamnya. Kenapa menderita? karena semua keinginan diri tidak teraktualisasi ketika kita berserah kepada semua dayaNya. Jadi, ketika saya ingin mie ayam saja, itu keinginan saya, saya tidak berserah terhadap dayaNya, yang menjadi tidak boleh. Tetapi ketika sudah berserah, ia dengan keMahaannya, memberikan kemudahan yang amat sangat, untuk saya mendapatkan mie ayam, keesokan harinya. Mengerti? caraNya dan waktuNya.

Saya bukan siapa-siapa, sungguh. Saya hanya ingin membagi, yang tidak bisa saya bagi dengan mudah kepada orang-orang, di dunia nyata. Bahwa kebesaranNya begitu indah, selain semua derita yang ia bagikan, nikmat yang ia berikan luar biasa dan berkelimpahan. Saya melakukan pencarian atas apa yang saya rasakan. Saat ini, yang paling masuk akal adalah Sufism.

Waalahualam.
Semoga Tuhan selalu beserta Anda dan orang-orang yang Anda cintai.

Salam,
Magenta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar